widodoRapat Senat Terbuka Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) dengan agenda Pengukuhan Guru Besar Prof. Dr. Widodo. SE. M.Si dilaksanakan di Aula FE Gedung Ibnu Khaldun (20/11) di pimpin oleh H. Anis Malik Thoha, Lc, MA, Ph.D sebagai Rektor / Ketua Senat Universitas Islam Sultan Agung Semarang. Berdasarkan SK Menteri Pendidikan Nasional tanggal 1 Oktober 2014 Dr. Widodo, SE, MSi diangkat menjabat Guru Besar Ilmu Manajemen sehingga Fakultas Ekonomi Unissula mempunyai tiga Guru Besar

Pada acara pengukuhan tersebut Prof. Widodo menyampaikan pidato pengukuhan Guru Besar dengan judul “KUALITAS STRATEGI DAN KEUNGGULAN BERSAING BERKELANJUTAN : PENDEKATAN JALUR ASSET STRATEJIK”, yang merupakan salah satu pengembangan pembelajaran dalam ilmu manajemen strategi yang diampu di  Fakultas Ekonomi Universitas Islam Sultan Agung Semarang

Dalam pidatonya Prof. Widodo mengatakan masalah yang mendasar di dalam manajemen  strategi adalah bagaimana sebuah  organisasi  dapat mencapai kinerja yang superior  dan   mempertahankan  keunggulan bersaing yang berkelanjutan. Namun tidak semua organisasi sukses dengan strategi yang dimiliki, artinya organisasi memiliki strategi namun tidak banyak yang menghasilkan kinerja organisasi yang superior. Kondisi tersebut berkaitan dengan kualitas strategi. Mengelola organisasi adalah mengelola knowledge,  knowledge  tidak akan bermakna, jika hanya sebagai informasi. Namun knowledge akan bermakna jika di implemantasikan. Oleh karena itu diperlukan exploitabilitas knowledge

Di akhir pidatonya Prof Widodo membacakan sebuah puisi: “Sebuah perjalanan panjang, berliku, terjal dan melelahkan. Namun semua itu sirna ketika ada serangkaian kata “air menetes melubangi batu bukan karena kekuatanya, namun karena keseringannya. Oleh karena itu sujud syukur, atas karunia-Nya adalah keniscayaan,  yang diwujudkan dalam berbagi sesama, kerja keras dan lebih profesional ”

 

PIDATO PENGUKUHAN GURU BESAR

(Prof. Dr. Widodo, SE, MSi)


  • Pendahuluan

Masalah yang mendasar di dalam manajemen  strategi adalah bagaimana sebuah  organisasi  dapat mencapai kinerja yang superior  dan   mempertahankan  keunggulan bersaing yang berkelanjutan (Teece, D..J, Pisano.G dan Shuen.A, 1997). Keunggulan bersaing  yang berkelanjutan muncul sebagai salah satu kerangka teoritis yang paling menjanjikan dalam literatur manajemen terutama di bidang manajemen strategi (Low SF, 2010; Luis Almeida 2013). Keunggulan bersaing berkelanjutan menjadi sangat esensial dan subtansial ketika pasar sangat kompetitif.  Oleh karena itu organisasi harus memfokuskan pada pengelolaan strategi.

Namun tidak semua organisasi sukses dengan strategi yang dimiliki, artinya organisasi memiliki strategi namun tidak banyak yang menghasilkan kinerja organisasi yang superior. Kondisi tersebut berkaitan dengan kualitas strategi (Widodo, 2008). Ada beberapa  pendekatan untuk mewujudkan sebuah kualitas strategi. Pendekatan pertama melalui jalur proses strategi. Artinya kualitas strategi adalah  strategi yang dibangun dengan kualitas formulasi strategi, kualitas implementasi strategi dan kualitas evaluasi strategi ( Menon,1999 ).

Pendekatan kedua  untuk mewujudkan sebuah kualitas strategi adalah melalui jalur atau diperlukan prasyarat  oganisasi harus memiliki asset stratejik.  Asset stratejik merupakan sumber daya dan kapabilitas yang memiliki potensi untuk menghasilkan keunggulan bersaing (Bogaert et al, 1994). Oleh karena itu tantangan yang dihadapi pimpinan harus mengintegrasikan sumber daya dan kapabilitas menjadi assets stratejik sehingga dapat mewujudkan keunggulan bersaing yang berkelanjutan.

Salah satu asset stratejik adalah human capital dengan dimensi kualitas pengetahuan yang dimiliki. Pengetahuan menjadi komponen penting dalam percaturan ekonomi baru.  Hasil studi Hsu Sheng (2007)  menunjukkan bahwa : 80 % responden mengatakan pengetahuan merupakan aset stratejik  dan 78 % peluang bisnis gagal karena tidak dapat mengeksploitasi pengetahuan yang ada di organisasi.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa mengelola organisasi adalah mengelola knowledge,  knowledge  tidak akan bermakna, jika hanya sebagai informasi. Namun knowledge akan bermakna jika di implemantasikan. Oleh karena itu diperlukan exploitabilitas knowledge.

Kualitas Strategi

Studi Menon, Bharadwaj dan Howell (1996 ) ; Ferdinand (2004)  menjelaskan bahwa peningkatan kinerja organisasi ditentukan oleh strategi  yang digunakan. Strategi merupakan rencana keseluruhan yang menjelaskan posisi daya saing suatu organisasi  (Mintzberg dan Quin ,1991). Strategi sebagai kumpulan metode yang digunakan untuk mengembangkan, memproduksi dan menjual produk atau jasa aktual (Porter, 1996). Sedangkan kualitas strategi adalah  strategi yang dibangun dengan kualitas perencanaan strategi, kualitas implementasi strategi  dan kualitas evaluasi strategi  ( Menon, Bharadwaj dan Howell,1996 ).

Berdasarkan hasil studi Widodo (2008) model konseptual pengembangan kualitas strategi, secara komprehensif nampak pada Gambar 1. Perubahan lingkungan  akan menuntun pada perubahan budaya organisasi dan pembelajaran organisasional. Pembelajaran organisasional membutuhkan dukungan dan harus dikembangkan sebagai budaya organisasi. Pembelajaran organisasi akan mampu mengenali  1). Prasyarat  asset stratejik yang mempunyai potensi meningkatkan kualitas strategi.                    2). Proses  strategi, yang mencakup aspek perencanaan strategi, implementasi strategi  dan evaluasi strategi.  Strategi yang berkualitas tercermin dalam kualitas proses perencanaan, kualitas proses implementasi serta  kualitas proses evaluasi. Kualitas  strategi akan memicu peningkatan kinerja organisasi.

Berdasarkan proses pengembangan strategi yang merupakan jalur pertama dalam membangun  kualitas strategi,  studi empiris mencakup sebagai berikut:

Proses Perencanaan Strategi

Temuan studi ini adalah :  prioritas utama dalam upaya meningkatkan kinerja organisasi dapat dicapai  melalui kualitas konten strategi dengan indikasi    konten strategi yang  berkelanjutan atau konten strategi berorientasi jangka panjang, kemudian terdapat kesesuaian  sumber daya,  dapat mengakomodasi kepentingan berbagai pihak dan  memiliki rentang waktu yang jelas.  Kemudian konten strategi dibangun oleh adaptabilitas dengan  memprioritaskan  kecepatan menyesuaikan perubahan, kemudian terdapat kontinuitas adaptasi dan berdapatasi dengan kepentingan stakeholder. Kemudian konten  strategi berdasarkan studi empirik masih bersifat general dan bersifat folower.

Proses Implementasi Strategi

Temuan studi ini adalah :  prioritas utama upaya meningkatkan kinerja organisasi dengan mengembangkan kualitas implementasi strategi dapat dicapai  melalui adanya peningkatan pola kerja cerdas dengan mengedepankan  prioritas pekerjaan yang lebih tinggi,  kemudian   pekerjaan harus  disusun berdasarkan perencanaan yang baik, perencanaan target sesuai dengan program. Peningkatan ide dalam pelaksanaan pekerjaan.  Pola kerja cerdas  dibangun oleh koordinasi dengan memprioritaskan  pelaksanaan pekerjaan dapat bekerja sama dalam satu tim, kemudian meningkatakan pelaksanaan pekerjaan dapat mengeksploitasi peluang dan meningkatakan pelaksanaan pekerjaan dapat bekerja sama dengan tujuan yang saling dimengerti. Kemudian berdasarkan studi empirik implementasi strategi tidak diikuti oleh struktur dan budaya organisasi yang memadai.

Proses Evaluasi Strategi

Temuan studi ini adalah :  prioritas utama upaya meningkatkan kinerja organisasi dengan mengembangkan kualitas evaluasi strategi dapat dicapai  melalui peningkatan pengawasan output  dengan memprioritaskan  penjelasan penyebab dari suatu kegagalan, kemudian  selalu mengawasi target yang dibebankan pada organisasi dan  mengawasi tingkat profitabilitas. Kemudian pengawasan output dibangun oleh pengawasan proses dengan memprioritaskan pembuatan laporan rutin, pengawasan prosedur dan melakukan evaluasi prosedur. Kemudian berdasarkan studi empirik evaluasi strategi dianggap sebagai pelengkap, bukan menjadi pondasi dalam perencanaan tahun berikutnya.

 

Asset Stratejik

Pendekatan dalam manajemen strategi dibedakan ke dalam pendekatan what dan pendekatan how (Hendrawan et al, 2003). Sedangkan menurut Miller (1998) pendekatan  manajemen strategi mencakup content dan process. Salah pertanyaan dalam pendekatan pendekatan process, salah satu pertanyaan adalah bagaimana strategi disusun atau menyatakan ”beginilah cara mengerjakan ”. Sedangkan content adalah  apa yang membuat organisasi menjadi berhasil, atau menyatakan ”inilah yang harus dikerjakan.” Kondisi ini akan menuntun pada wilayah asset stratejik.

Asset stratejik merupakan sumber daya dan kapabilitas yang memiliki potensi untuk menghasilkan keunggulan bersaing (Bogaert et al, 1994). Sedangkan menurut Amit & Schoemaker  (1993) asset stratejik  merupakan sumber daya dan kapabilitas yang  bersifat langka, tidak mudah diperdagangkan, sulit untuk  ditiru oleh pesaing, tahan lama,  dapat digunakan untuk mengkonversi value menjadi profit ( Amit & Schoemaker, 1993).  Oleh karena itu pimpinan organisasi harus mengambil keputusan  usaha pengembangan assets stratejik masa sekarang maupun masa yang akan datang.

Asset – asset stratejik  ini dapat dikategorikan dalam sebuah kumpulan yang lebih besar seperti asset keuangan, asset fisik,  asset teknologi intangible asset dan asset human capital (Grant, 1991).  Human capital merupakan karakteristik sumber daya manusia (SDM) yang untuk menciptakan nilai bagi organisasi (Sheng Hsun Hsu : 2007). Suatu organisasi dengan SDM  berkeahlian tinggi dan berpengetahuan mempunyai human kapital lebih tinggi dan lebih mungkin menciptakan pengetahuan, membuat keputusan yang tepat dan mempunyai keinovatifan teknologi lebih baik (Hitt et al, 2001).

Namun demikian, persoalan yang dihadapi organisasi adalah bagaimana mendorong SDM untuk mengkontribusikan pengetahuan mereka untuk keuntungan organisasi. SDM  bisa saja enggan membagi pengetahuan, karena takut kehilangan kepemilikan, posisi penting atau superioritas. Oleh karena itu demi kepentingan organisasi pimpinan harus menekankan pada pengembangan kapabilitas dan komitmen (kemauan dan hasrat untuk berkontribusi bagi keberhasilan organisasi. Hasil studi Augusto Felı´cio and Eduardo Couto (2014) dimensi human capital mencakup : kualitas pengetahuan, pengalaman intensif, kemampuan kognitif dan kemampuan professional. Kemampuan professional indikator mencakup : kemampuan dalam area teknologi, kualitas komunikasi, manajemen organisasi dan  widespread knowledge. Berdasarkan uraian tentang asset stratejik, dapat disajikan dalam Gambar 6.

 

Manajemen Pengetahuan

Manajemen pengetahuan memiliki peran strategis dan nilai tambah karena dapat memicu peningkatan efektivitas organisasi. Banyak organisasi tidak dapat berfungsi sebagai organisasi yang berbasis pengetahuan, karena faktor ketidakmampuan dalam proses pembelajaran organisaional. Menurut Mohsen Nazari (2011) pengetahuan telah diakui sebagai sumber penting untuk mencapai keunggulan kompetitif yang berkelanjutan dan nilai penciptaan kompetensi inti.  Pengetahuan menjadi komponen penting dalam percaturan ekonomi baru (Grant , 1996).

Konsep manajemen pengetahuan bertujuan untuk membangun organisasi yang lebih baik dalam suatu organisasi (Amrous Naila: 2014) Literatur yang ada mendefinisikan manajemen pengetahuan sebagai integrasi dan koordinasi individu dan organisasipengetahuan dengan mengelola arus organisasipengetahuan dan  menciptakan pengetahuan baru (Jeevan Jyoti : 2011). Kemudian studi Leticia Bautista-Frias (2012) menunjukkan bahwa manajemen pengetahuan berarti mengelola aliran informasi dan mendapatkan informasi yang benar kepada orang-orang yang membutuhkannya dalam  waktu yang cepat.  

Dalam perspektif Islam manusia diperintahkan untuk membaca sebagai mekanisme dalam mencari pengetahuan    (Al Qur’an 96 :1-5 ).  Hal ini harus dilakukan dalam Nama Allah, Sang Pencipta, Maha Pemurah. Perintah di sini bukan hanya untuk mengumpulkan
pengetahuan dan informasi, tetapi manusia mengatur, merencanakan dan mengelola dengan baik pengetahuan diberikan kepadanya.

Manajemen pengetahuan menurut Islam berasal dari sebuah makna bahwa pengetahuan berkaitan dengan keyakinan, pengetahuan, sehingga merupakan bagian dari iman. Hal ini wajib bagi semua muslim untuk mengejar pengetahuan, untuk menumbuhkan berbagai cabang pengetahuan dan kemudian membangun model manajemen pengetahuan yang cocok untuk  membantu manusia menjadi pengguna pengetahuan yang efektif (Muhamadul Bakir Hj. Yaakub :2011).

Membekali diri dengan pengetahuan merupakan sarana dalam meraih kedudukan yang terhormat. Nabi Muhammad SAW bersabda :  “Sesungguhnya pengetahuan menempatkan pengamalannya dalam kedudukan terhormat dan mulia. Ilmu pengetahuan adalah keindahan bagi ahlinya didunia dan diakhirat “ Ilmu pengetahuan menjadi cahaya penerang sekaligus sebagai kekuatan apabila ilmu difungsikan sebagaimana mestinya (Antonio,2014).

Oleh karena itu manajemen pengetahuan telah menjadi landasan dalam strategi  organisasi. Organisasi pasca-industri adalah berbasis pengetahuan, dan kesuksesan dan kelangsungan hidup mereka tergantung pada kreativitas, inovasi, penemuan dan daya cipta. Hasil studi  (Jeevan Jyoti : 2011); Márcia Zampieri Grohmann (2012) dimensi manajemen knowledge mencakup : knowledge sharing,  knowledge cretion, knowledge protection, knowledge utilization. Sedangkan menurut Susanne Durst and Ingi Runar Edvardsson (2012) mencakup Knowledge Identification, Knowledge Creation, Knowledge, storage/retention, Knowledge Transfer, Knowledge utilization. Dan Sangjae Lee, Byung Gon Kim and Hoyal Kim (2011); Tatiana Andreeva and Aino Kianto (2011) dimensi terdiri dari Acquisition, Conversion, Application, Protection. Berdasarkan dinamika teoritik dan fenomena yang ada  dalam studi ini disarikan menjadi knowledge acquisition, knowledge sharing dan Knowledge utilization.

Dan knowledge utilization merupakan pemanfaatan pengetahuan yang digunakan untuk perubahan perilaku atau untuk mengembangkan ide-ide baru (Márcia Zampieri Grohmann  : 2012). Beberapa faktor dapat mempengaruhi orang untuk menggunakan pengetahuan adalah tidak memiliki kepercayaan dalam sumber pengetahuan, kesempatan yang hilang, takut untuk mengambil risiko dan cepat menilai bahwa pengetahuan tidak penting. Beberapa studi Yi. P.L  (2011) knowledge utilization mencakup : exploration knowledge dan exploitation knowledge.

Eksplorasi pengetahuan dimulai dengan pencarian, variasi, mengambil risiko, percobaan, dan inovasi, dan adalah tahap di mana praktek-praktek baru diperkenalkan (Paul E.. 2009).  Organisasi dapat mendorong eksplorasi pengetahuan dengan pertemuan formal, pertemuan informal dan berinteraksi dan bekerja sama untuk pencapaian tujuan tertentu (Cegarra, 2005). Eksplorasi pengetahuan seringkali diperlukan untuk mengeksplorasi kemampuan baru, dan juga meningkatkan pengetahuan dasar yang sudah ada organisasi (Ahuja ,2002). Oleh karena itu pembelajaran organisasional merupakan inti dari kegiatan eksplorasi adalah menciptakan berbagai pengalaman  yang berhubungan dengan memperluas pengetahuan .Kegiatan eksplorasi tersebut termasuk mencari norma organisasi baru, rutinitas, struktur, dan system, bereksperimen dengan pendekatan baru terhadap teknologi, proses bisnis, atau pasar, berinovasi dan mengadopsi orientasi jangka panjang, dan mempertimbangkan kembali keyakinan yang ada dan keputusan  (Tom J. M., 2007). Jadi eksplorasi merupakan prasyarat untuk eksploitasi, tetapi manfaat eksplorasi juga tergantung pada jumlah pengetahuan yang telah akumulasi dan belajar melalui eksploitasi (rutinitas misalnya  aturan dan prosedur ).

Eksploitasi pada dasarnya adalah proses memperoleh kompetensi dengan mengadopsi, sintesis dan menerapkan pengetahuan yang sudah ada. Hal ini membutuhkan pengetahuan yang telah diciptakan dan diinternalisasi untuk digunakan dan menciptakan kehandalan dalam pengalaman (Weiping Liu :2006).  Eksploitasi mengacu pada penerapan pengetahuan eksternal untuk memperbaiki produk yang sudah ada organisasi dan meningkatkan prosesnya Paul E. Bierly (2009). Atau eksploitasi sebagai penggunaan dan lebih lanjut pengembangan kompetensi yang ada. Eksploitasi pengetahuan, indikatornya ; manajemen  aktif menerima perubahan ada pengenalan hal baru dengan mitra dan mitra memecahkan masalah bersama-sama, kegiatan yang banyak akumulasi pengalaman serta kegiatan yang lakukan dengan menggunakan pengetahuan yang diperoleh (Tom J. M, 2007).  Berdasarkan uraian tentang manajemen knowledge dapat disajikan dalam Gambar 8:

Keunggulan Bersaing Berkelanjutan

Di masa sekarang lingkungan bisnis yang kompetitif dan dinamis, memiliki atau mengakuisisi keunggulan bersaing berkelanjutan telah menjadi tujuan mendasar atau bahkan filosofi untuk organisasi (Low Swee Foon, 2010). Oleh karena itu untuk kelangsungan hidup jangka panjang, hanya dengan memastikan jangka panjang atas kinerja rata-rata tidak mencukupi dan telah menjadi prasyarat yang diperlukan bagi organisasi  untuk memiliki keunggulan bersaing berkelanjutan.

Organisasi diyakini telah mendapatkan keunggulan bersaing berkelanjutan ketika mampu menciptakan dan menerapkan strategi yang tidak dilaksanakan oleh organisasi lainnya (Devika Nadarajah: 2014). Berdasarkan  kajian pustaka yang mendalam perkembangan konsep keunggulan bersaing berkelanjutan dapat disimpulkan bahwa pada 1990-an, Sustainable Competitive Advantage (SCA) konsep dari “pandangan berbasis sumber daya”  dan “sumber daya tak berwujud” menjadi tema dominan. Konsep-konsep ini kemudian diteliti oleh para ahli untuk memberikan identifikasi secara rinci terutama difokuskan pada aspek  “intangibility sumber daya” sebagai sumber keunggulan bersaing berkelanjutan. Seperti isalnya, branding, orientasi pasar, pembelajaran organisasi, inovasi, nilai pelanggan, hubungan pemasaran dan jejaringan

Kemudian pada abad ke-21, berkembang indikator SCA menjadi pembelajaran organisasional, manajemen pengetahuan, sistem informasi manajemen, teknologi dan inovasi, globalisasi dan sebagainya. Namun tidak mengurangi pentingnya SCA sebagai salah satu isu yang paling penting dalam manajemen strategi. Kajian pustaka manajemen strategi  abad ke-21 terutama difokuskan pada sumber daya tidak berwujud sebagai sumber keunggulan kompetitif yang berkelanjutan.

Model Teoretikal Dasar

Berdasarkan kajian mengenai teori berbasis sumber daya  ( Resources Based Theory) dan menejemen pengetahuan yang comprehensif dan mendalam, sehingga menghasilkan proposisi Exploitabilitas Pengetahuan dan Model Teoritikal dasar , yakni :

Kualitas strategi dapat diwujudkan melalui pendekatan asset stratejik yakni Exploitabilitas Pengetahuan. Exploitabilitas Pengetahuan merupakan kemampuan sumber daya manusia yang memiliki kualitas komunikasi, manajemen organisasi,  teknologi informasi yang didukung oleh manajemen aktif menerima perubahan dan terdapat pengenalan hal baru dengan jejaring.  Kemampuan profesional exploitasi pengetahuan ini berpotensi mewujudkan keunggulan bersaing berkelanjutan

Kemudian model teoritikal dasar adalah intensitas dan ekstensitas pembelajaran organisasional yang komprehensip dan sistemik akan menghasilkan exploitabilitas pengetahuan. Exploitabilitas pengetahuan yang dimiliki organisasi akan memicu kinerja inovatif dan keunggulan bersaing berkelanjutan, konsekuensi akan meningkatkan kinerja organisasi yang superior.

Penutup

Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan secara komprehensif dan mendalam, untuk mewujudkan keunggulan bersaing berkelanjutan yang dibangun oleh  kualitas strategi  melalui pendekatan jalur asset stratejik maka dapat disimpulkan sebagai berikut :

Pertama, human capital merupakan asset stratejik ditentukan oleh pengetahuan dan keimanan yang dimiliki  yang digunakan untuk menciptakan nilai bagi organisasi, sehingga memicu terwujudnya keunggulan bersaing berkelanjutan.

Kedua, peluang organisasi  gagal karena tidak dapat mengeksploitasi pengetahuan yang ada. Oleh karena itu manajemen harus mendorong sumber daya manusia untuk mengkontribusikan pengetahuan mereka untuk keuntungan organisasi. Demi kepentingan organisasi pimpinan harus menekankan pada pengembangan kapabilitas dan komitmen (kemauan dan hasrat untuk berkontribusi bagi keberhasilan organisasi. Maka human capital harus melibatkan     a). kompetensi SDM, misalnya:  Skill, knowledge dan kapabilitas.        b). Komitmen, misalnya: kemauan untuk mendedikasikan hidup dan kerja bagi organisasi sebagai bagian dari ibadah kepada Allah SWT.

Ketiga, dinamika sumber keunggulan kompetitif yang berkelanjutan  adalah  sumber daya tidak berwujud. Oleh karena itu manajemen harus mengintegrasikan dan mengkombinasikan sumber daya tak berwujud menjadi asset stratejik sehingga dapat mewujudkan keunggulan bersaing berkelanjutan, bukan dilihat dari kuantitas sumber daya tak berwujud dan kapabilitas.

Keempat, exploitabilitas  pengetahuan merupakan kemampuan sumber daya manusia yang memiliki kualitas komunikasi, manajemen organisasi,  teknologi informasi yang didukung oleh manajemen aktif menerima perubahan dan terdapat pengenalan hal baru dengan jejaring.  Kemampuan profesional exploitasi pengetahuan ini berpotensi mewujudkan keunggulan bersaing berkelanjutan

Pesan untuk Mahasiswa

Pengetahuan berarti cahaya dan kekuatan, semakin tinggi pengetahuan sesorang berarti semakin tinggi kebenaran seseorang dan kedekatan kepada Allah SWT serta rendah diri. Oleh karena itu setiap usaha harus membangun pengetahuan menjadi sebuah penawaran nilai. Pengetahuan tidak dapat dipisah, namun harus menjadi bagian eksplisit dari segala sesuatu yang berhubungan dengan usaha.

Menerapkan pengetahuan demi pengetahuan menjadikan faktor yang penting  dalam produktivitas untuk maju ke depan. Siapa kita adalah pengetahuan yang kalian miliki.  Oleh karena itu dalam proses pembelajaran ini akan menentukan pengetahuan yang dimiliki. Pastikan bawa proses yang baik akan menghasilkan sesuatu yang baik.

Pesan untuk Para Dosen

Kebanggaan seorang dosen adalah mahasiswa dan alumni memiliki pengetahuan yang bernilai bagi masyarakat. Oleh karena itu diperlukan dinamika proses pembelajaran yang memiliki nilai dan konten pengetahuan yang tinggi. Ketulusan dan komitmen dalam proses pembelajaran merupakan keniscayaan.

Ucapan Terima Kasih

Kini tiba saatnya bagi saya untuk mengakhiri pidato pengukuhan ini. Saya mohon waktu untuk dapat mengungkapkan rasa syukur saya kehadirat Allah SWT atas limpahan Rahmat Taufik  dan Hidayah-Nya sehingga saya dapat melalui perjalanan panjang menempuh pendidikan sejak sekolah dasar hingga jenjang pendidikan tertinggi sampai dapat berpidato berdiri pada hari ini didepan hadirin semua.

Kami menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Republik Indonesia melalui Menteri Pendidikan Nasional yang telah memberi kepercayaan kepada kami untuk mengemban Jabatan sebagai Guru Besar dalam ilmu manajemen.

Kepada Bapak H. Hasan Toha .M.BA selaku Ketua Yayasan Badan Waqaf Sultan Agung Semarang atas izin dan kesempatan yang diberikan kepada kami untuk menyampaikan pidato pengukuhan sebagai Guru Besar Ilmu Manajemen di hadapan rapat senat terbuka Universitas Islam Sultan Agung Semarang.

Selanjutnya saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan sebesar-besarnya kepada Bapak  Mantar Rektor  Dr. H. Machfudz Ibawi, SP. THT, Dr. Dr. H.M. Rofiq Anwar. Sp.PA dan Prof. Laode Kamaludin. Ph.D. kemudian  H. Anis Malik Thoha, Lc, MA, Ph.D sebagai Rektor / Ketua Senat dan Anggota senat Universitas Islam Sultan Agung Semarang yang telah menyetujui dan memproses pengusulan saya sebagai Guru Besar.

Kepada mantan Dekan Prof. Dr. Hj. Tatiek Nurhayatie. MM, Dr.H.  Moch Zulfa dan Dr. Hj. Indri Kartika. SE. M.Si. Akt. Kemudian  Hj. Olivia Fachrunnisa. SE. M.Si.Ph.D selaku Dekan Fak. Ekonomi Unissula Semarang yang selalu memonitor dan menanyakan perkembangan proses pengusulan guru besar kami.

Kepada Mantan Kopertis Wilayah VI Jawa Tengah Bapak Prof. Drs. Mustafid, MSc, PhD dan Prof. Dr.  DYP.  Sugiharto, M.Pd Koordinator Kopertis Wilayah VI, terima kasih atas saran-saran dalam proses pengurusan Guru Besar.

Terima kasih saya sampaikan kepada peer Group Reviewer, yakni Prof. Dr. Augusty Tae Ferdinand. M.BA, Widiyanto. SE. M.Si. Ph.D dan Hj. Olivia Fachrunnisa. SE. M.Si.Ph.D atas berbagai masukan dalam penyiapan pidato pengukuhan ini.

Kepada Ibu Hj. Indah Susilowati. SE. M.Si. Ph.D (Undip Semarang) selaku reviewer Dikti yang telah menyetujui dan menginspirasi saya untuk menjadi peneliti yang bernilai.

Kepada Bapak Prof. Dr. Augusty Tae Ferdinand. M.BA, Prof. Dr. H. Sugeng Wahyudi dan Prof. Dr. Pahlawansjah Harahap. SE. ME sebagai reviewer internal jabatan Guru Besar

Kepada Bapak Prof. Dr. H. Miyasto, SU, selaku promotor, Bapak Prof. Dr. Augusty Tae Ferdinad. M.BA dan Prof. Dr. H. Sugeng Wahyudi. MM, selaku co-promotor di dalam pembuatan desertasi sehingga dapat menjadi  jalan  dalam memperoleh Guru Besar.

Keluarga Prof. Dr. H. Pahlawnsjah Harahap. SE. ME dan Prof. Dr. H. Tatiek Nurhayatie, SE, MM yang telah menginspirasi dan memotivasi kami untuk selalu belajar.

Kepada Pimpinan Bappeda Propinsi Jawa Tengah, Bappeda Kota Semarang, Bappeda Kab. Jepara, Bappeda Kab. Pemalang, Bappeda Kab. Brebes, Bappeda Kota Pekalongan, Bappeda Kota Salatiga, Bappeda Kab. Kendal, PDAM Tirto Moedal dan Perum Perhutani  Jawa Tengah yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk melakukan studi empiris sehinga menambah percaaya diri dan mantap di depan kelas.

Kepada teman-tema kami di lapangan, Dr. Prihatin, Emilia, SE. M.Si (Untag Semarang), Dr. Lasmono, Prof. Sony (UKSW), Dr. Irhas, Dr. Muafi dan Dr. Ghofar (UPN Yojakarta), Prof. Andreas Lako (Unika), Prof. Tukiran (UMP), yang interaktif dan komunikatif dalam sharing knowledge.

Rasa terima kasih secara tulus kepada semua Pendidik dan Tenaga Kependidikan  Fakultas Ekonomi,  mahasiswa S1 Fakultas Ekonomi maupun Magister Manajemen serta alumni  Unissula Semarang  yang telah memberikan motivasi kepada saya di dalam pencapaian Guru Besar ini.

Selanjutnya untuk semua guru-guruku sejak saya menimba ilmu di sekolah dasar sampai dengan strata tiga, jasa-jasamu tidak akan pernah kulupakan sepanjang hidupku. Tanpa beliau beliau tidak mungkin pada hari ini saya berdiri di atas mimbar yang amat terhormat ini.

Persembahan yang diiringi doa ketentraman di alam barzah kepada kedua orang tua saya, Ayahanda Eko Prayitno dan Ibunda Sriyati, yang telah mendidik dasar-dasar kesuksesan kehidupan saya, dari beliaulah saya mendapatkan kasih sayang dan pendidikan sehingga menjadi insan yang mandiri.

Kemudian kepada Mertua saya Ibu Siti Rahayu  dan Almarhum  Slamet Riyadi serta saudara-saudara saya yang telah memberikan  bekal petuah dan bimbingan bagi perjalanan  hidup saya sekeluarga.

Untuk orang terdekat saya dalam keseharian selama 20 tahun ditambah 11 tahun masa interaksi penyesuaian, istri saya Ida Puji Lestari. SE, yang terkasih dan tersayang, telah berbuat sangat banyak dalam usaha dan doanya untuk kesuksesan saya.

Kepada putra-putri saya tersayang, Erlangga (almarhum), Danisa Windi (Sasa) dan Dandri Widyo (Andre), terima kasih atas dukungannya, pengertian kalian pada Ayah dalam pencapaian jabatan ini. Untuk itu, mari bersama Ayah dan Mama, kita syukuri nikmat Allah ini, mudah-mudahan kita tidak akan menjadi kufur nikmat.

Kepada Moch Tholib. SE. M.Si selaku ketua panitia dan seluruh anggota panitia serta semua pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu, saya ucapkan banyak terima kasih atas segala doa restu, bantuan dan perhatiannya.

Akhirnya kepada hadirin saya ucapkan terima kasih atas kesabarannya dalam mengikuti dan mendengarkan pidato pengukuhan saya ini. Kehadiran Bapak/Ibu/saudara memiliki arti yang sangat bersejarah bagi keluarga dan almamater kami.

Leave a reply