Rois Syuriah PBNUSepanjang sejarah hanya ada 3 konsep Negara yang bertumbuh sesuai dengan tahap-tahap evaluasinya: Awalnya adalah Negara Feudal, yang dibangun oleh dan untuk melayani kepentingan penguasa; Kedua, Negara Kapitalis yang dikelola untuk melayani kepentingan penguasa berkolusi dengan kaum kaya (aghniya); Ketiga, puncaknya adalah Negara Keadilan untuk melayani kepentingan segenap rakyatnya terutama yang paling lemah dan terpinggirkan (mustadl’afin).

Demikian dikatakan oleh Masdar Farid Masudi (Rois Syuriah PBNU) dalam seminar nasional “Pajak Sebagai Zakat: Solusi Membangun Kemaslahatan Umat” yang diselenggarakan oleh Fakultas Ekonomi Unissula pada hari Selasa, 31 Mei 2011 di Ruang Sidang (R.10) Lt.2 FE Unissula Semarang.

 

 

Seminar Nasional Pajak

Lebih lanjut Masdar Farid Masudi menyampaikan bahwa menentukan bentuk, tujuan dan akhlak ketiga type Negara seperti tersebut diatas adalah konsep “Pajak”-nya. Sebagaimana diketahui, pajak adalah darah kehidupan (life blood) Negara. Pajak dibayar Negara tegak, pajak diboikot Negara Ambruk. Maka bagaimana pajak dikonsepsikan (didefinisikan) begitulah jadinya Negara. Benar niyat kita dalam membayar Pajak, benar pula langkah kita dalam bernegara.

  1. Negara Feudal, dengan Pajak sebagai Upeti (Maks/Dlaribah)
  2. Negara Kapitalis, dengan Pajak sebagai Imbal Jasa (Jizyah)
  3. Negara Keadilan, dengan Pajak sebagai Zakat (Sedekah Karena Allah) untuk Kemaslahatan Rakyat
  4. Negara Tanpa Pajak, Negara tanpa Aspirasi Rakyat

Penutup

Tidak ada tindakan manusia yang berdampak seluas dan sedalam tindakan membayar pajak. Berpajak adalah inti bernegara. Niat yang benar dalam membayar pajak akan memastikan Negara menjadi alat keadilan dan kemakmuran; sebaliknya niat berpajak yang salah akan menjerumuskan Negara menjadi alat kedzaliman yang sangat menyengsarakan orang banyak.

“Segala tindakan ditentukan oleh niatnya; bagi setiap orang apa yang diniyatkannya” (al-Hadits)

Leave a reply