Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang besar. Memiliki kekayaan berupa sumber daya alam yang melimpah. Namun, dibalik segala keunggulan yang dimiliki, bangsa ini memiliki berbagai macam masalah sosial – ekonomi yang berdampak secara langsung bagi kemajuan bangsa ini sendiri. Salah satu contoh masalah sosial – ekonomi di Indonesia adalah masalah kemiskinan dan pengangguran. Salah satu pengentas kemiskinan dan pengangguran yang efektif adalah dengan terjun dalam dunia wirausaha (entrepreneurship). Selain perbaikan ekonomi, sociopreneur adalah solusi untuk meningkatkan perekonomian nasional. Salah satunya adalah peranan pemuda melalui kegiatan wirausaha sosial, atau sociopreneurship. Dimana para pemuda dapat menciptakan model usaha yang melihat masalah justru sebagai peluang bagi pemberdayaan masyarakat.

Untuk dapat memberikan solusi dari masalah sosial – ekonomi, mahasiswa fakultas ekonomi Unisssula berpartisipasi dalam ajang Kompetisi Sociopreneur Muda Indonesia 2016 dalam bidang industri kreatif. Ada 6 bidang perlombaan ini, yaitu industri jasa, pelayanan publik, industri kreatif, teknologi, ekologi/lingkungan/wisata, ketahanan pangan dan pertanian & kemaritiman. Kompetisi tersebut diadakan oleh Youth Studies Centre (YouSure) Fisipol UGM yang dibuka pada tanggal 1 Maret – 31 Mei 2016 dan diperuntukkan bagi pemuda usia 16 – 30 tahun.

Sony Surya Manggala Putra, Dimas Saputra, dan Wan Biondi Syah Putra adalah mahasiswa FE Unissula yang berhasil lolos ke 90 besar dari 300 kelompok peserta yang berasal dari berbagai propinsi di Indonesia dalam kategori Industri Kreatif dan masuk peringkat ke – 3 dengan nama kelompok dr Craft (difable recycle kerajian) yang bertujuan untuk membantu memasarkan produk – produk kaum difabel yang sebelumnya hanya dipasarkan melalui bazar – bazar. Jadi ada 3 hal pokok yang mereka lakukan untuk memberdayakan kaum difabel, yaitu : (1) penyediaan bahan baku, jadi mereka berusaha untuk mencari bahan – bahan bekas seperti sim card, koran bekas, dll untuk dijadikan kerajinan, dengan tujuan supaya kaum difabel tidak kesulitan untuk mencari bahan baku dengan keadaan yng serba terbatas, (2) pengemasan, hal ini bertujuan untuk menjadikan produk mereka lebih indah dan mempunyai nilai jual tinggi, dan (3) pemasaran, sebelumnya kaum difable hanya memasarkan produk mereka melalui bazar – bazar, akan tetapi dengan adanya hal ini produk mereka akan dipasarkan lewat media sosial. Ke – 3 mahasiswa tersebut akan melakukan presentasi atas proposal yang mereka buat pada tanggal 5 – 7 September 2016 bersama dengan ke – 89 kelompok lain dari berbagai propinsi di Indonesia.

Leave a reply