Pertumbuhan ekonomi suatu negara tidak terlepas dari meningkatnya jumlah penduduk. Jumlah penduduk tersebut termasuk penduduk yang memiliki jiwa wirausaha (entrepreneur). Kurangnya minat masyarakat untuk berkecimpung di dunia usaha khususnya wirausaha muda menjadikan salah satu faktor penghambat pertumbuhan ekonomi. Karena banyak masyarakat yang bertahan pada zona aman, seperti memilih untuk bekerja sebagai pegawai kantoran, karyawan pabrik bahkan menjadi pengemis. Itu mereka lakukan karena terhambat oleh modal. Modal dalam hal ini dapat diartikan luas, bukan hanya modal soal uang, tetapi juga modal berupa akal, pikiran, kemauan, semangat, serta kreatifitas di dalam berwirausaha.

 

Oleh karena itu, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ekonomi Unissula menyelenggarakan Seminar Nasional dengan tema “The Strategy of Government to Build a Better Economy through Developing Young Entrepreneurs in Indonesiapada hari Selasa, 24 Januari 2017 yang bertempat di Aula Fakultas Ekonomi Unissula. Acara tersebut dihadari oleh kurang lebih 600 mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi se-Jateng dan DIY.

 

Seminar Nasional ini diisi oleh Bapak Purwiyanto Pranotosuwiryo (Staf Ahli Menteri Keuangan R.I. Bidang Pengeluaran Negara) dengan subtema “Peran Pemerintah di Bidang Human Investment dalam Rangka Menyiapkan Fakultas Ekonomi dan Bisnis di Era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA)” dan Bapak Muliaman D. Haddad (Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan) dengan sub tema “Peran Otoritas Jasa Keuangan dan Industri Jasa Keuangan dalam Mendukung Pengembangan Wirausaha Muda Indonesia.

Dalam paparan yang disampaikan oleh Bapak Purwiyanto Pranotosuwiryo, beliau menyampaikan bahwa Negara Indonesia masih menjadi Negara yang tertinggal se-ASEAN, menurut perhitungan GEI (Global Entrepreneurship Indeks) 2015, Indonesia menduduki peringkat ke-7 se-ASEAN dan peringkat ke 120 Dunia dengan nilai GEI 21,1.

Dengan keadaan seperti itu, pemerintah Indonesia harus mengambil peran untuk menciptakan Human Investmen di Era MEA. Peran pemerintah yang telah diambil dalam hal ini adalah :

  1. Melalui sektor Pendidikan, dengan adanya program Indonesia Pintar, dan pemberian beasiswa, seperti beasiswa Bidikmisi dan Beasiswa PPA (Peningkatan Prestasi Akademik).
  2. Melalui Inkubator Bisnis & Perusahaan pemula (start-up company), dengan menciptakan lapangan kerja baru dan untuk menumbuhkan wirausaha baru.

Hal tersebut didukung dengan penjelasan dari Bapak Muliaman D. Haddad. Menurut beliau, Indonesia memiliki potensi besar dalam penggerak UMKM, namun pada saat ini, posisi daya saing Kewirausahaan dan Kreativitas Indonesia di tingkat global masih relatif tertinggal dari negara-negara lain, khususnya di kawasan ASEAN, maka dari itu Diperlukan pendampingan dan dukungan agar calon wirausaha muda Indonesia memiliki daya saing, inovasi dan kreativitas yang tinggi, serta kesempatan berkembang yang lebih besar, diantaranya melalui perluasan akses kepada sumber-sumber pembiayaan. Salah satu akses untuk mendapatkan sumber pembiayaan tersebut adalah melalui Pengembangan & Pengaturan Equity Crowdfunding.

Equity Crowdfunding merupakan salah satu alternatif akses terhadap permodalan bagi perusahaan rintisan dan UKM yang saat ini cukup popular di berbagai belahan dunia, dan mulai merambah Indonesia. Di tahun 2017 ini, OJK telah merencanakan untuk meluncurkan regulasi terkait Equity Crowdfunding untuk mengawasi perkembangan equity crowdfunding agar dapat berkembang dalam koridor prinsip-prinsip kehati-hatian dan perlindungan konsumen.

Saat ini terdapat beberapa situs Crowdfunding di Indonesia, beberapa diantaranya yang cukup dikenal adalah:

  1. Kita Bisa (www.kitabisa.com), fokus pada pendanaan proyek-proyek sosial sejak tahun 2013.
  2. Wujudkan (www.wujudkan.com), fokus pada pendanaan berbagai proyek industri kreatif.
  3. Akseleran (www.akseleran.com), merupakan salah satu perintis equity crowdfunding di Indonesia yang fokus pada pendanaan UKM dan perusahaan rintisan (start up).

Jadi, Generasi muda bangsa khususnya young entrepreneur harus memiliki jiwa dan semangat “entrepreneur” untuk menjadi pribadi yang lebih inovatif dan kreatif dalam menciptakan peluang bisnis dengan memanfaatkan teknologi informasi.

Leave a reply